Tidak ada “mereka”

“Ngapain KKN itu wajib?

Kenapa ga ada magang kayak kampus sebelah?

Lebih enak magang, aku akan terlihat profesional

Magang akan membuatku merasakan dunia kerja yang sesungguhnya

Akan bisa menambah pengalaman di CVku

Aku bisa mencoba magang di perusahaan besar dan terlihat keren

Aku akan bergaul dengan pekerja kantoran yang bisa membimbingku menjadi lebih profesional

Aku bisa berpakaian bagus, rapi, dan terlihat tampan, hehe”

Itulah pemikiranku di awal semester enam, ketika aku harus mulai memikirkan satu mata kuliah wajib agar bisa lulus dari kampus ini. Ya, mata kuliah wajib itu bernama Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pemikiran tersebut selalu kuulang-ulang sambil terus-menerus mencari lokasi KKN yang paling aman, nyaman, dan santai buatku.

Sampai pada akhirnya aku mulai menyadari sesuatu…

“Aku”, “aku”, dan “aku”

Kenapa semua yang aku pikirkan hanya diriku?

Kenapa tidak ada kata “mereka”?

Akupun mulai memikirkan kembali semua hal yang telah aku lalui. Ketika aku sangat suka mengajar, ketika aku suka berbagi pengalaman, dan ketika aku pernah berkata bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi seseorang yang bermanfaat. Apa fakultas ini telah merubahku menjadi seorang yang materialistis? Apa aku telah menjadi seorang yang egois, hanya memikirkan diriku sendiri? Padahal untuk bisa menikmati pendidikan terbaik sejak dulu hingga sekarang aku bisa kuliah, aku sangat bergantung pada beasiswa dari negara. Dimana rasa terimakasihku pada negara ini? Negara yang telah menyalurkan uang-uang dari pembayar pajak di seluruh negeri untuk membantuku menikmati bangku kuliah.

“Apa aku sudah cukup mengenal Indonesia?

Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka?

Apakah ilmu yang kumiliki akan berguna bagi mereka?

KKN akan membuatku mengenal Indonesia lebih dalam

Aku bisa bergaul dengan orang-orang desa yang bisa membimbingku menjadi lebih memahami makna dari hidup ini

Aku bisa merasakan apa itu pemerataan ekonomi, ketimpangan infrastruktur, akses pendidikan yang rendah, maupun inklusi keuangan yang selama ini hanya aku baca dari buku atau berita.”

Dari sana muncul keinginanku untuk mengabdi ke daerah yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Ke daerah yang kehidupan masyarakatnya belum pernah aku jumpai sebelumnya. Akhirnya aku mengerti makna “Universitas Kerakyatan” yang selalu melekat dengan kampusku. Saat itu rasa “minder” yang aku alami karena kampusku tidak seperti kampus sebelah yang menyediakan magang bagi mahasiswanyapun hilang. Aku merasa bangga berada di kampus ini, kampus yang menyebarkan seluruh mahasiswanya ke seantero Indonesia. Kampus yang hadir di setiap perbatasan, mulai dari Sabang, Natuna, Sebatik, Talaud, Keerom, Timor Tengah, dan lainnya. Kampus yang hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia untuk berbagi dan menerapkan ilmunya sebagai wujud pengabdian terhadap bangsa. Kampus ini adalah kampus yang pertama kali didirikan sejak Indonesia merdeka, dan memang seharusnya menjadi pelopor untuk mengabdi kepada bangsa.

“Ardi, tahukah kamu, ketika kamu berpikir bahwa kamu akan berbagi ilmu, akan mengajari mereka yang kamu anggap masyarakat desa yang perlu dibina. Sesungguhnya merekalah yang akan mengajarimu, merekalah yang akan membimbingmu, dan merekalah yang akan mengisi kekosonganmu akan makna dari hidup ini”

“Ardi, pengabdian itu bukanlah tentang dekat atau tidaknya lokasi KKNmu, bukan tentang perbatasan, namun tentang apa kontribusimu dan bagaimana kamu memaknai mata kuliah wajib dengan 3 sks ini”

“Semoga kamu tidak kehilangan tekadmu untuk mengabdi”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s